Monday, February 11, 2013

JAGAT EMPU 1930

Oleh: FG. Pandhuagie

Surutnya pembuatan keris tak sebatas oleh pola pewarisan yang tertutup. Ini tak luput dari datangnya kapitalisme.

Menurut perspektif Barat, pembuatan senjata khususnya pada orang-orang Timur—dengan porsi utama segi estetika—adalah salah satu pemenuhan kebutuhan manusia, yaitu pamer. Sungguh sebuah pandangan yang ganjil.

Pembuatan senjata (keris) memakan proses panjang dan teknik-teknik khusus. Selain itu, keris juga mengandung makna-makna filosofis nan simbolis dari setiap lekuknya. Dalam banyak kebudayaan di Nusantara, ia dianggap bagian integral dari pemiliknya, misalnya bagi orang-orang Bugis, Makassar, Bima, keris dianggap sebagai pengganti dari rusuk sebelah kiri yang hilang (demikian catat J.F. Dingemans dalam tulisannya mengenai seni pembuatan pamor di Soerabaiasch Handelsblad, 8 Juli 1904).

Pamor

 Jika dirunut ke belakang, teknik pembuatan keris masuk ke Nusantara melalui India pada masa Hindu. Ditilik dari sisi historikal, seni pembuatan senjata ini berasal dari Persia yang dibawa ke India lalu masuk ke Asia Timur termasuk wilayah Nusantara. Yang paling mencolok adalah pada pamor—kata pamor yang berarti campuran, besi campuran dan diambil dari suku kata wor yang artinya mencampur. Yaitu penempaan plat baja dan logam dengan kandungan nikel secara bersamaan hingga melebur.

Pada lapis permukaan, lapisan nikel itu menjadi tak tampak. Senjata tersebut kemudian diasamkan dengan asam arsenik sehingga bahan-bahan logam selain nikel akan rusak meninggalkan lapisan nikel yang akan membentuk kontur atau relief yang timbul pada senjata tersebut. Keris di Nusantara dibuat dengan teknik yang sama, tapi menggunakan bahan logam dengan kandungan nikel yang lebih sedikit. Dari nikel yang yang membentuk relief itulah muncul pamor dari keris seperti yang kita kenal sekarang ini.

Ketika teknik tersebut memunculkan pamor dengan motif-motif yang berbeda, maka para Mpu pembuat keris kemudian melakukan pengerjaan pamor secara rahasia. Dalam perkembangannya, pamor kemudian dirancang sesuai dengan motif pamor yang akan dimunculkan. Tergantung dari penghitungan komposisi dan teknik penempaan yang berbeda pula dari setiap jenis pamor.
Karena tingkat kesulitan inilah pamor akhirnya menjadi sebuah identitas bagi para Mpu.

Dalam lingkup yang lebih luas, keris dengan pamor-nya—yang merupakan pembeda keris dengan senjata lainnya—menjadi identitas budaya bernilai seni dan filosofi yang tinggi sehingga menjelma penanda suatu kebudayaan yang adiluhung.

Persinggungan Religi

 Dalam kepercayaan masyarakat Jawa terdapat 5 hal yang menjadi pegangan yaitu: Turangga (kuda), Wanita (perempuan), Curiga (senjata), Wisma (rumah) dan Kukila (burung perkutut). Kesemua hal tersebut mewakili prinsip hidup yang menjadi pegangan dalam budaya Jawa.

Keris—dalam konsep curiga—dipandang mempunyai suatu daya mistis yang lebih besar dari pada jenis senjata yang lain, sehingga memerlukan perlakuan yang berbeda pula. Keris dan senjata lain keramat lainnya atau sebagai pusaka harus dibersihkan (jamasan) setiap periode tertentu dengan upacara-upacara yang khusus pula. Senjata keramat tersebut dianggap mempunyai suatu daya magis, mempunyai roh yang dapat mempengaruhi kehidupan sang pemilik dan bahkan lingkungan sosial di lingkup kekuatan benda keramat tersebut.

Hampir tiap keris sebagai senjata keramat mempunyai kesejarahannya masing-masing. Legenda Si Ginje, dua buah keris yang dijadikan sebagai pengikat perjanjian hubungan antara Mataram dan Kesultanan Jambi. Di masa itu, Kesultanan Jambi harus memberi upeti kepada Mataram. Keris Si Ginje harus terbuat dari besi yang bersumber dari sembilan benda dan tempat yang berbeda yang namanya harus diawali huruf P. Besi, bahan untuk keris harus didapatkan dari hasil curian dan pada saat pembuatannya hanya boleh ditempa setiap Jum’at pertama (majalah untuk bahasa India, Negeri dan Volkenk, bagian XLVIII).

G.A.J. Hazeu dalam tulisannya tentang legenda keris mencatat tentang Kyai Tjondong, salah satu pusaka kerajaan Majapahit yang setiap malam keluar sendiri dari sarungnya untuk meminum darah manusia. Sampai pada akhirnya perbuatan keris tersebut diketahui oleh tiga keris pusaka lainnya. Atas titah Raja, para Mpu kemudian dikembalikan ke asalnya. Setelah itu, keris tersebut menyatu dengan lintang kemukus (bintang berekor). Dalam kepercayaan Jawa munculnya lintang kemukus adalah tanda akan terjadinya pageblug (bencana).

Lalu tentang keris Mpu Gandring, ditulis oleh J. Brandes, yang merupakan cikal-bakal hegemoni keris sebagai suatu legitimasi atas sebuah kekuasaan. Keris yang digunakan Ken Arok (pendiri Singosari) untuk membunuh Akuwu Tunggul Ametung dari Tumapel dan merebut istrinya (Ken Dedes). Diawali kejadian Ken arok saat melihat pancaran sinar dari yoni Ken Dedes sebagai pertanda bahwa Ken Dedes bakal menurunkan raja-raja di Jawa. Dari sini terlihat bahwa keris berperanan penting dalam pembentukan falsafah dan kepercayaan Jawa yang pada era Majapahit menguasai hampir seluruh wilayah di Nusantara sehingga falsafah ini kemudian menyebar pula di berbagai wilayah Nusantara lainnya.

Sepeninggal Mpu
Pada perkembangannya, seni membuat keris kian berkurang sebab para Mpu kebanyakan tidak mewariskan ilmunya. Di Yogyakarta dan Solo, sebenarnya masih terdapat beberapa Mpu yang ahli dalam membuat keris, tapi mereka hanya membuat keris hanya ketika raja atau bangsawan yang memesannya. Di Madura, empo (mpu) juga telah punah. Mpu terakhir di sana adalah Mpu Bratama dari Sumenep yang meninggal sekitar 50 tahun yang lalu (dihitung dari tahun 1930an).

Para bupati sebelum masa itu banyak yang mempunyai pandai besi maupun Mpu yang dikhususkan untuk membuat keris yang akan dipersembahkan pada raja. Tapi akhirnya, mereka beralih profesi menjadi pembuat perkakas di bidang pertanian sebab dibutuhkan banyak orang dan pembuatannya pun cenderung lebih praktis.

Di Magetan Jawa Timur, terdapat Mpu terakhir yang terkenal yakni Mpu Kyai Guna dengan ciri khas mempunyai banyak garis dalam pamornya. Di Madiun, masih terdapat Mpu yang dapat memperbaiki pamor, tepatnya dari Desa Batoe di wilayah Tjaruban, tapi sebagaimana di Yogyakarta dan Solo, ia bergantung pesanan. Demikian juga yang terjadi di Jawa Tengah, kantong-kantong pembuat keris seperti Tegal, Pemalang, dan Banyumas, perlahan memunah.

Begitupun di luar Jawa. Berbagai kemunduran merupakan hal yang menggejala, antara lain di daerah Tulangbawang (kala itu berada di residen Lampung). Di Jambi gejala ini melanda di Dusun Merlung (bagian wilayah Tungkal) yang terkenal dengan seni tempanya. Sementara di Palembang di mana pada masa itu paling tidak masih terdapat dua orang yang ahli dalam tempa pamor, yakni Akim dari kampnng 21 Ilir dan Anang dari kampung 18 Ilir yang pada akhirnya juga mengalami kemunduran. Juga di daerah Malaka, Aceh, maupun Celebes (Sulawesi).

Setidaknya pada era awal abad ke-19 sampai masa tahun 30an inilah kemungkinan terjadi transisi dan tranformasi keris yang cukup mendasar. Revolusi industri di Eropa dan Amerika yang memunculkan era kapitalis membawa pengaruh yang cukup signifikan dalam mengubah paradigma kehidupan masyarakat Hindia Timur yang kala itu berada di bawah pemerintahan Belanda. Perubahan iklim dari tradisional ke modern otomatis mempengaruhi paradigma masyarakat tak terkecuali para pandai besi maupan para mpu yang kemudian lebih berorientasi ekonomi.

*Dielaborasi ulang dari “Inlandsch Kunstnijverheid in Nederlandcsh Indie. JE. Jasper en Mas Pirngadie - Jilid V. Boek En Kunstdrukkerij v/u Mouton & Co, 1930,” dalam Buku Wangkingan Kebo Ijo, Bentara Budaya Yogyakarta (2008).

No comments:

Post a Comment