Monday, February 11, 2013

Kujang-Waruga

Skema Aksara Pembentuk Kata "Ciung" dalam Perupaan Kujang-Waruga




Kujang merupakan karya budaya tradisi Sunda maka untuk menterjemahkannya harus menggunakan berbagai disiplin ilmu yang berasal dari tradisi budaya Sunda pula. Adapun metode yang berbasis tradisi Sunda dipergunakan untuk membaca makna simbolis dan filosofis yang terkandung dalam perupaan kujang melalui beberapa cara, yaitu:

1. Aksara pembentukan Ha Na Ca Ra Ka
2. Panca Niti anu Lima Titian Ilmu, terdiri dari Niti Harti (tahap mengerti dan memahami), Surti (tahap mengkaji dan memaknai), Bakti (tahap mengaplikasikan atau membaktikan), Bukti (tahap membuktikan secara ilmiah) dan Sajati (mendapatkan jawaban berupa kebenaran hasil dari akumulasi empat tahap sebelumnya berdasarkan pemahaman dan analisa).
3. Panca Curiga yaitu Sindir Sampir, Silib, Siloka tina Simbul dan Sasmita.

Kujang tidak dapat dilihat dari aspek estetika dan proses pembuatannya saja, untuk dapat menterjemahkannya harus dilakukan analisa secara menyeluruh. Upaya menterjemahkannya harus dilakukan secara identifikasi secara menyeluruh, seperti menganailsa penamaan varian bentuk, teknis pembuatan (Holistik), periode penciptaan, elemen pada struktur anatomi, fungsi simbolik dalam penggunaannya, ukuran atau dimensi, dan jumlah mata yang terdapat pada bilahnya.
Perupaan kujang memiliki struktur yang kompleks karena mengandung makna filosofis di balik perupaannya. Kujang menjelaskan perjalanan manusia dari mulai tidak ada, kemudian ada dan kembali menuju ketiadaan. Maka dengan demikian makna filosofis kujang terletak pada nilai simboliknya.

Kujang dan berbagai jenis tosan aji lainnya diciptakan dalam waktu yang lama, bahkan menurut berbagai sumber, ada yang diciptakan hingga memakan waktu bertahun-tahun. Hal ini sebuah bukti sejarah bahwa Kujang diciptakan untuk kepentingan fungsi Simbolis, dimana Nilai-Nilai luhur “ Ditanamkan” di dalam perupaannya.
Berbagai jenis tosan aji (kujang, keris, dan sebagainya) berfungsi simbolis dan bermakna filosofis, tidak diperuntukan secara aplikatif atau praktis (Utilitas).

Sebilah kujang atau jenis tosan aji lainnya, diciptakan untuk kepentingan individu dalam sistematika negara purba (Nagara Kartagama), di mana riwayat hidup seseorang terekam di balik perupaannya.

Kujang bagi orang Sunda merupakan piandel atau berfungsi sebagai penguatan karakter atau jati diri, karena kujang merupakan simbol dari kosmologi Sunda (mikrokosmos/jagat leutik dalam bahasa Sunda) dan Kosmogoni Sunda (makrokosmos/jagat gede dalam bahasa Sunda).

Selain dari fungsi piandel, kujang dinal juga dengan sebutan gagaman atau sebuah perlambang bagi manusia Sunda yang sudah memiliki ageman atau disiplin ilmu tertentu. Kujang berfungsi pula sebagai simbol dari etika /atikan Sunda dan estetika/anggitan Sunda.

Kujang dijadikan sebagai lambang berbagai lembaga, seperti: Pemerintahan Provinsi Jawa Barat, Pemda Bogor, Lembaga Pendidikan besar (UNPAD dan UNPAS), Divisi Angkatan Darat dan sebagainya, juga berbagai tugu Kujang didirikan (Badung, Bogor, Depok, Tasikmalaya dan berbagai tempat lainnya) merupakan sebuah bukti bahwa kujang berfungsi secara simbolis dan bermakna filosofis yang luhur.

Sisi tajam yang ada pada bilah kujang merupakan lambang dari "ketajaman
ilmu", yang sama sekali tidak berfungsi secara aplikatif (sebagai alat tikam atau alat iris) atau bentuk mengikuti fungsi (forms follow function).

Berdasarkan observasi penulis bahwa kujang diciptakan dengan latar belakang kearifan budaya Sunda, yang secara umum sama dengan berbagai jenis tosan aji lainnya di Bumi Pertiwi.

Makna dari kata Ciung adalah Ca'ang yang berarti mengetahui berbagai hal. Manusia yang sudah mencapai tingkatan ini dianugerahi gelar Ciung Wanara atau Guru Minda, sebagai perwujudan manusia sempurna, (Ciung bermakna Ca'ang/Pencerahan (berupa ilmu Pengetahuan), Wanarah bermakna Weruh Sadurung Winara (mengetahui dirinya, mengetahui Tuhan-nya dan ciptaan- Nya).

Metoda yang digunakan dalam membedah makna kujang dalam penelitian ini adalah Aksara pembentuk kata Ha Na Ca Ra Ka dan Pola Tiga Kosmologi Sunda sebagai upaya untuk mendekonstruksi. Selanjutnya metoda Panca Niti dan Panca Curiga merupakan upaya rekostruksi makna kujang, hingga diketahui kebenaran yang hakiki sebagai bentuk meta konstruksi yang melahirkan cultural existential berupa nilai esensi (Pancer dalam Bahasa Sunda).

Melalui kajian filosofis dan simbolis kujang akan mampu mengungkap kosmologi Sunda. Maka dengan demikian kujang merupakan alat yang mempunyai fungsi simbolik, bukan perkakas multi fungsi secara aplikatif atau praktis (utilitas), dan Senjata Tajam.

No comments:

Post a Comment