Thursday, February 7, 2013

UKIRAN atau DEDER

  • Ukiran, Jejeran, Handel, “Hilt”, Deder, Pegangan, Hulu keris atau apa saja namanya merupakan suatu bentuk benda untuk tempat pegangan tangan dari sebuah tosan aji.
    Kebanyakan terbuat dari bahan kayu yang keras, berserat bagus dan gampang dibentuk, logam atau tulang, tanduk serta gading gajah. Terbanyak dibuat dari kayu Tayuman (Caesia laevigata Willd), Cendana, akar kayu jati, akar mawar hutan atau Kemuning (Murraya paniculata Jack.) dengan ukiran yang kadang melambangkan suatu maksud tertentu.

    Benda ini kelihatannya sederhana tetapi sebetulnya merupakan suatu kesatuan utuh dengan tosan aji tersebut dan tidak terpisahkan. Keindahan suatu keris dinilai pertama kali dari ukirannya karena ini yang langsung terlihat, pamor dan besi keris sendiri tersembunyi didalam rangka.
    Kadang kita melihat keris dengan gaya Jogjakarta tetapi mempunyai hande gaya Solo atau sebaliknya, ini menunjukan bahwa yang bersangkutan tidak mengetahui bahwa Ukiran tersebut bisa juga merefleksikan tempat asal tosan aji tersebut dan juga berkaitan dengan perlengkapan tosan aji yang lainnya seperti rangka, mendak, selut atau pendok.

    Bagi para pecinta tosan aji terutama yang baru mulai, adalah sangat penting memperhatikan hal-hal kecil seperti apakah ukiran yang dipakai tersebut memang sesuai dengan keris yang dipunyainya, jangan sampai contohnya orang dengan pakaian jas yang sangat rapih tetapi memakai sepatu olah raga.

    Ada pula orang yang justru karena sesuatu hal (mungkin karena takut mistis dari tosan aji tersebut atau alasan lain) tidak mengkoleksi tosan aji, akan tetapi justru mempunyai koleksi ukiran cukup banyak dan bervariasi, ini menunjukan bahwa ukiran sudah merupakan suatu seni tersendiri yang mencirikan suatu daerah tertentu dan bisa terlepas dari bentuk tosan aji seutuhnya.

    Sayangnya saat ini sudah semakin sedikit pengrajin ukiran (di Jawa namanya Mranggi), apalagi yang masih mengikuti pakem atau aturan yang baku, ini mungkin disebabkan lamanya membuat ukiran tersebut yang bisa 4 hari (dari masih berbentuk bahan samapi jadi) bahkan lebih kalau menggunakan gading atau logam sedangkan hasil yang diperoleh tidaklah sebanding dengan tenaga dan pikiran yang digunakan. Belum lagi apabila ukiran tersebut disesuaikan dengan sifat atau watak sipemesan, bila wataknya halus maka sebaiknya ukiran tersebut bisa mencerminkan sifat tersebut. Selain itu juga bahan pembuatnya yang termasuk kualitas baik juga semakin jarang (kayu Tayuman misalnya) sehingga harga dari ukiran tersebut juga tidak terlalu tinggi, padahal ketelitian dan usaha membuatnya hampir sama antara ukiran dengan bahan yang baik dengan bahan yang biasa saja padahal harganya bisa berlipat kali perbedaannya.

    Biasanya pengrajin ukiran menggunakan kayu “blak” atau contoh “molding” yang biasanya terdiri dari 4 bagian untuk membuat ukiran tersebut (khususnya untuk ukiran dari Jawa Tengah) yang bisa ditrapkan dan dipaskan untuk diterapkan kepada ukiran yang sedang digarap, ini untuk menjaga agar ukuran dan ciri ukiran tersebut standard , karena beda bentuknya sedikit saja maka ukiran tersebut sudah jatuh nilainya, yang membedakan mutu tinggal di “seni ukir” dan kehalusan serta ketelitian dari si pengrajin saja ditambah mungkin motif kayu yang tepat (ada kendit atau polengnya).
    Pada beberapa tosan aji, antara ukiran dan tosan ajinya menyatu merupakan satu kesatuan bahan, ini biasanya disebut “deder iras”, umumnya terdapat dikeris kuno yang dikenal dengan sebutan “Keris Majapahit”, walau ini merupakan ungkapan yang salah kaprah karena belum tentu tosan aji itu buatan jaman Majapahit.

    Kalau diamati secara umum, biasanya ukiran ini merupakan wujud dari manusia/dewa/
    raksasa/wayang atau binatang, karena pengaruh agama maka bentuk tersebut disamarkan seperti tampak pada ukiran yang berasal dari Jawa Tengah.

    Mengenai hubungan antara “ukiran” keris Jawa dengan ikonografi Hindu, seorang sarjana Belanda bernama Von Heine Gelderen menyatakan, dengan menunjukan sikap “duduk jongkok” yang juga bisa dilihat disalah satu monumen di Candi Singasari (sekitar 1300 SM) bentuknya mirip dengan sikap raksasa bernama “Khalmasapada” yang suka makan orang, sehingga diharapkan senjata yang berukiran seperti itu akan mempunyai kekuatan untuk “makan orang” juga.
    Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, ukiran-ukiran (panjang, lebar, tebal) dalam pembuatan ukiran ini ditentukan sebelumnya dan disesuaikan dengan keinginan sipemesan. Sebagai suatu tradisi, di kesultanan Jogjakarta telah ditentukan suatu bentuk ukiran yang dinamakan “Tunggak Semi”,
    kemudian Sultan-sultan berikutnya menciptakan model Mangkurat I, Mangkurat II, PB I, PB II,
    Banaran, Taman, Krajan dan sebagainya sekitar tahun 1650, 1677, 1702, 1743, 1755, 1810 dan 1825.

    Bentuk ukiran ini juga bisa menunjukan status social dan derajat kebangsawanan seperti yang
    terdapat pada ukiran “Rajamala”, Wiria-diningratan, Longok dan Somba Keplayu dari Surakarta.
    Untuk ukiran yang berbentuk manusia membungkuk biasanya disebut “Kocet-kocetan”.

    Didaerah semenanjung Malaysia dan Sumatra serta kadang di daerah Bugis terdapat ukiran yang berkepala burung garuda dan berbadan manusia dengan kedua tangan memeluk badan (ditafsirkan seperti Dewa Vishnu yang bersemedi) dinamakan “Jawa Demam”
    Ukiran-ukiran ini ada yang distilir halus sekali dengan detil yang mengagumkan, misalnya bentuk
    binatang burung dengan bulunya, atau raksasa dengan detil rambutnya.
    catatan ini ini hanya usaha kecil dari seorang pecinta tosan aji, khususnya untuk tosan aji yang berasal dari Nusantara dan sekitarnya untuk mengumpulkan semua informasi yang ada dan menyebarkannya ke masyarakat dengan satu tujuan agar makin banyak masyarakat terutama orang Jawa yang mencintai budayanya dan menjaga kelestariannya.

    Banyak informasi dalam catatan ini yang diambil dari literature asing seperti dari “De Kris 3 – Magic relic of old Indonesia” karangan ing. G.j.f.j. Tammens, terbitan Belanda tahun 1994.

No comments:

Post a Comment